Assalamualaikum,
Saya akan berbagi cerita kepada Anda kisah Saya pada saat kecanduan pornografi dan onani. Bagi Anda yang membaca postingan Saya ini pasti sudah tidak asing dengan istilah pornografi dan Onani. Ya, dahulu Saya adalah penikmat pornografi dan pecandu onani. Bagaimana Saya bisa terjerumus dalam lingkaran setan tersebut?
Saya akan berbagi cerita kepada Anda kisah Saya pada saat kecanduan pornografi dan onani. Bagi Anda yang membaca postingan Saya ini pasti sudah tidak asing dengan istilah pornografi dan Onani. Ya, dahulu Saya adalah penikmat pornografi dan pecandu onani. Bagaimana Saya bisa terjerumus dalam lingkaran setan tersebut?
Dahulu pada zaman Saya masih sd ada teman yang memberitahu Saya suatu website pornografi. Cerita kecanduan dimulai dari sini. Dari awalnya hanya iseng mengelus elus penis sampai keluar sperma untuk pertama kalinya yang Saya rasakan sungguh nikmat yang tiada duanya. Ya! Saya mulai suka onani pada saat itu. Dahulu Saya tidak tau bahwa Onani itu dosa, yang Saya tau enak dan sangat nikmat.
Pengalaman onani Saya berkembang pada saat Saya smp, dari yang awalnya hanya mengetahui satu website porno sampai Saya tahun puluhan website porno, bahkan Saya hafal genre video porno dari yang tua, muda, kakak adik, lgbt hingga pemerkosaan. Saya sungguh menikmati semua video yang Saya tonton. Dan ya, tatkala menonton video porno pastilah Saya barengi dengan Onani.
Onani sudah seperti rutinitas yang harus Saya lakukan, setiap hari jika tidak onani seperti ada yang kurang. Terkadang Saya onani dengan membayangan tubuh teman sekelas Saya, atau satu sekolahan. Dan lebih gilanya Saya membayangkan memperkosa teman Saya sambil Saya ber onani.
Jika keluarga Saya sedang berada di rumah, Saya lebih memilih untuk beronani di kamar mandi. Menggunakan sabun sambil menonton video porno atau terkadang sambil berkhayal.
Tak lagi hanya menggunakan tangan untuk mengocok, Saya mulai menggunakan ‘media’ lain untuk memuaskan nafsu Saya yang besar. Saya mulai menggunakan hand body yang Saya punya dan arghhh sungguh nikmat sekali menurut Saya pada saat itu. Tak jenuh untuk mencoba pengalaman baru, Saya mulai menggesek-nggesekkan penis Saya ke guling hingga keluar onani, dan yang lebih parah Saya mencoba dengan membolongi guling Saya dan memasukkan penis Saya kedalam guling tersebut sambil menonton video porno. Saya mencoba berbagai posisi ‘’bersetubuh’’ dengan guling dengan posisi yang Saya dapatkan dari video porno. Jenuh menggunakan hand body, Saya mencoba untuk menggunakan minyak goreng sebagai media untuk beronani. Dan arghhh sekali lagi sungguh lebih nikmat daripada menggunakan handbody!
Terkadang di saat libur Saya jadikan ajang marathon video porno yang Saya download sambil beronani. GILA! Dulu Saya jarang sekali beribadah dan karena onani ini Saya semakin tidak pernah beribadah. Hukum agama hanya seperti sambi lalu karena dulu Saya tidak peduli, yang Saya tau nikmat dan enak!
Rutinitas Saya sehari hari dahulu ketika Saya kecanduan onani.
Sekolah-Onani-Tidur-Mandi
Ibadah? Dahulu Saya menganggapnya tidak penting dan tatkala Adzan berkumAndang pun Saya tidak menghiraukannya. Saya malah menganggap suara Adzan itu berisik, Astaghfirullah! Lebih lebih ketika Saya sudah kecanduan pornografi dan onani, tidak pernah tersentuh sama sekali Al Qur’an yang ada di meja kamar Saya.
Mindset Saya dulu daripada Saya memperkosa teman mending Saya beronani karena tidak akan menghamili dan bisa dilakukan kapan saja!
Efek Negatif Pornografi dan Onani terhadap kehidupan Sosial Saya
Siapa sangka kenikmatan yang tiada duanya itu memberikan dampak negatif terhadap kehidupan sosial Saya. Pada awalnya Saya tidak menyadari bahwa sedikit demi sedikit tingkat kepedean Saya menurun. Dimana tempatnya Saya mulai merasakan minder. Minder! Bahkan duduk dengan teman sekelas Saya minder! Pergi bersama keluarga Saya minder, jangan harap Saya bisa bersosialisasi seperti orang pada umumnya, bertemu dengan orang baru dan mudah akrab. Yang Saya rasakan pada saat itu minder! Seakan Saya dihapus dari dunia. Saya jarang sekali bersosialisasi dengan tetangga, teman sejawat, dan bahkan dengan keluarga Saya! Apa yang terjadi pada Saya? Saya menutup menutup dari sosialisasi dan Saya menjadi introvert pada saat itu.
Yang Saya lakukan sehari hari hanyalah mengurung diri di kamar menonton video porno sambil beronani. Ketika sekolah pulang Saya langsung pulang untuk segera memuaskan ‘hasrat’ yang menggebu-gebu. Tatkala Saya minder, dimanapun Saya berada Saya merasa seperti orang asing. Tidak berani menatap orang dan Saya merasa dunia Saya sempit sekali, semua tertuju pada kepuasan nafsu!
Efek Negatif Onani Terhadap Tubuh Saya
Saya tidak menyadari bahwa onani membawa dampak negatif terhadap produktivitas tubuh Saya. Hari demi hari tubuh Saya mengalami penurunan fisik. Setiap hari Saya merasa lemas karena onani yang Saya lakukan pada hari sebelumnya, hal tersebut menyebabkan Saya tidur di kelas. Seakan pelajaran menjadi tidak penting, karena ketika Saya memperhatikan pun susah sekali untuk berkonsentrasi dan sangat susah sekali untuk memahami apa yang diterangkan guru. Pikiran Saya selalu tertuju pada seks dan ketika Saya melihat teman Saya, Saya bisa saja membayangkan bentuk tubuhnya dan membayangkan sedang bersetubuh dengannya. Dan poin yang cukup membuat Saya menyesal adalah onani membuat muka Saya 10 tahun lebih tua dari yang seharusnya. Dan yang membuat Saya benar benar menyesal sampai saat ini adalah onani membuat Saya ejakulasi dini!
Sungguh telah hancur hidup Saya dikarenakan kecanduan onani ini, Bagi Anda yang membaca postingan ini dan belum pernah melakukan onani Saya sarankan jangan pernah sekali seumur hidup mencoba untuk beronani. Sangat sulit sekali untuk bisa terbebas dari jerat kecanduan onani. Bahkan lebih susah terbebas daripada kecanduan narkoba. Dan bagi Anda yang sudah terlanjur kecanduan pornografi dan onani, berhentilah sekarang! Sayangilah tubuh Anda dan masa depan Anda. Jangan sampai Anda seperti Saya.
Baca Juga: Beginilah Cara Saya Terbebas dari Kecanduan Pornografi dan Onani
Bagi Anda yang mempunyai pengalaman yang sama dengan Saya silahkan berkomentar di bawah. Terima Kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca kisah Saya. Semoga bermanfaat.
